Kanha terdiam sejenak agar suasana bertambah tegang. "Saat melawan Lynx, Valgor langsung kesulitan dan hampir kalah sehingga dia terpaksa menunjukkan kekuatan aslinya dan berubah."
"Berubah?" Suara tegang terdengar dari salah satu kerumunan. Membayangkan kekuatan para pemimpin pasukan suku Monrest yang kuat sudah membuat mereka merasa ketakutan, apalagi membayangkan wujud mereka saat berubah.
"Bukankah mereka berubah hanya jika terdesak. Aku sering mendengar bahwa mereka sangat jarang berubah kecuali menemukan musuh yang kuat, karena mereka akan kehilangan kekuatan dan kesadaran selama beberapa hari setelah pertarungan." Kata salah satu suku Uksa yang duduk di samping Narendra.
"Lynx memang luar biasa, bisa memaksa Valgor mengerahkan kekuatannya." Kata yang lainnya.
"Lalu bagaimana?" Tanya yang lainnya.
Kanha melanjutkan. "Setelah Valgor berubah, terjadi kepanikan, semua suku Raksa yang ada di tempat pertandingan mengenalinya, karena hanya para pimpinan suku Monrest saja yang dapat mengeluarkan kekuatan untuk berubah." 
"Valgor yang sudah ketahuan akhirnya memanggil semua pasukannya. Ternyata kami sudah di kepung. Untuk bisa membebaskan kami, Lynx menantang Valgor dalam pertarungan. Dan yang paling keren, dia menggunakan kesaktiannya—‘Pukulan Matahari’! Tangannya bersinar terang, dan dengan satu pukulan, dia menjatuhkan Valgor!”
“Pukulan Matahari?” salah satu pemuda Uksa bertanya dengan wajah bingung.
"Satu pukulan? Sekuat apa pukulannya hingga bisa mengalahkan Valgor yang bermutasi?" Tanya salah satu tetua Uksa yang ikut mendengarkan.
Narendra menjelaskan dengan lebih tenang. “Itu adalah teknik khusus Lynx. Aku sendiri belum pernah melihat yang seperti itu sebelumnya. Selama perjalanan, Lynx tidak pernah memperlihatkan kekuatannya.”
Narendra menambahkan, “Saat ini, Lynx sedang menolong seseorang yang membutuhkan bantuan. Tapi dia berjanji akan segera menyusul kita.”
Widhi mendengarkan dengan penuh perhatian. Dia mengangguk pelan dan berkata, “Lynx memang luar biasa. Dia bukan hanya kuat, tapi juga memiliki hati besar. Dia selalu menolong, bahkan kepada orang yang tidak dikenalnya.”
Setelah Narendra selesai menceritakan tentang Lynx yang sedang membantu seseorang, suara sumbang terdengar dari sudut pertemuan. Banu, salah satu pemuda Suku Uksa yang dikenal sering meremehkan orang lain, angkat bicara dengan nada sinis.“ Lynx? Ah, dia cuma sok jadi pahlawan. Kenapa tidak langsung ikut dengan kita saja kalau dia memang sehebat itu agar kita bisa segera berkumpul dengan suku lainnya di barat? Mengapa harus berpura-pura membantu orang lain dan menghambat perjalanan?”
Beberapa orang yang mendengar komentar itu tampak tidak nyaman, tetapi tidak ada yang berani menyanggahnya. Narendra menatap Banu dengan dingin, tetapi sebelum dia sempat menjawab, Arkha sudah melangkah maju dengan langkah berat.
“Diam, Banu!” suara Arkha menggelegar, membuat Banu sedikit mundur. “Kau tidak tahu apa-apa tentang Lynx. Dia mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan kita semua dari Valgor dan suku Monrest. Kalau kau tidak bisa menghormatinya, setidaknya jangan bicara seperti pengecut!”
Wajah Banu memerah. Dia mencoba membalas, tetapi tatapan tajam Arkha membuatnya terdiam. Akhirnya, dia hanya duduk dengan wajah kesal, memilih untuk tidak melanjutkan perdebatan.
Narendra menatap Arkha dengan penuh penghargaan dan berkata pelan, “Terima kasih.”
Arkha hanya mengangguk, lalu kembali duduk di dekat api unggun sambil memandangi bara yang memerah.
Para tetua dari kedua suku akhirnya sepakat. Setelah Lynx tiba, mereka akan bersama-sama pindah ke barat untuk bergabung dengan Suku Sinto. Untuk saat ini, kedua suku bekerja sama membangun tempat tinggal sementara.
Dengan suasana yang mulai hangat, Widhi menatap api unggun, memikirkan masa depan. Dia tahu tantangan masih panjang, tapi untuk pertama kalinya dalam waktu lama, dia merasa sedikit lebih percaya diri.
Keesokan harinya, suasana perkemahan mulai sibuk dengan aktivitas pagi. Para wanita dari kedua suku bekerja sama memasak, sementara para pria mulai memperkuat pagar dan membangun tempat perlindungan tambahan.
Di dekat perbatasan, Arkha sedang memimpin patroli ketika seorang pemuda dari Suku Uksa berlari menghampirinya. Wajah pemuda itu pucat, dan dia terlihat gugup.
“Arkha, ada rombongan kecil mendekat dari arah selatan!” lapornya.
Arkha segera mengarahkan perhatian ke arah yang disebutkan. “Berapa banyak?” tanyanya dengan nada tegas.
“Hanya enam orang, tapi aku tidak yakin apakah ada pasukan lain yang bersembunyi di belakang mereka.”
Arkha langsung memberi perintah kepada beberapa pemuda Raksa untuk bersiap, sementara pemuda Uksa itu segera berlari menuju Widhi untuk melapor.
Narendra dan Rara datang menghampiri Arkha. “Aku dengar ada rombongan yang mencurigakan?” tanya Narendra.
Arkha mengangguk. “Hanya enam orang, tapi kita tidak bisa mengambil risiko. Kita harus memeriksanya. Aku ingin kau dan Rara mendampingiku.”
Narendra dan Rara menyetujui tanpa ragu. Mereka membawa beberapa pemuda Raksa untuk menyelinap ke sekitar perbatasan, memastikan tidak ada ancaman tersembunyi. Pasukan Raksa dan Uksa lainnya bersembunyi di balik pepohonan, bersiaga jika situasi berubah menjadi berbahaya.
Ketika rombongan kecil itu akhirnya muncul dari balik pepohonan, Arkha mengamati mereka dengan saksama. Mereka terdiri dari lima pria dan satu wanita yang menggendong seorang anak kecil. Arkha memberi isyarat agar yang lain tetap tenang.
Narendra menyipitkan matanya, mencoba mengenali wajah-wajah itu. Ketika dia melihat wanita yang menggendong anak, dia tersentak. “Itu Marni!” serunya pelan.
Arkha juga mengenalinya. “Dia orang yang sedang dibantu oleh Lynx untuk menemukan rombongannya kan ? Kemana Lynx? Bukankah seharusnya bersamanya.”
Ketika rombongan itu mendekat, Arkha keluar dari persembunyian bersama Narendra dan Rara. “Marni? Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Arkha.
Marni terlihat lega melihat mereka. Dia tersenyum kecil meski wajahnya tampak lelah. “Lynx menyuruhku menyusul kalian,” katanya. “Dia sedang membebaskan tahanan lain yang ditangkap oleh perampok sebelum mereka membawanya ke suku Monrest. Dia bilang aku harus segera bergabung dengan kalian untuk memastikan keselamatan kami.”
"Perampok? Monrest?" Salah satu suku Raksa kaget mendengarnya.
"Apakah mereka perampok yang di pimpin oleh Kronar?" tanya Arkha.
Arkha sudah mendengar adanya kawanan perampok yang meresahkan banyak suku. Kawanan perampok ini terdiri dari berbagai suku, sedangkan Kronar sendiri tidak ada yang mengetahui dari suku mana dia berasal. Setelah suku Raksa terpecah, sebagian dari mereka di tarik untuk bergabung.
Ayah Marni menganggukkan kepalanya. "Benar. Suku Monrest berusaha menangkap orang-orang untuk ritual persembahan. Dan Kronar memimpin para perampok menangkap siapa saja yang berhasil mereka temukan untuk di serahkan ke Monrest. 
Narendra mengangguk memahami. “Monrest memang tidak bisa kita biarkan. Lynx juga selalu begitu,” gumamnya. “Dia tidak akan membiarkan siapa pun menderita, bahkan jika itu berarti dia harus mengambil risiko sendirian.”
Rara yang berdiri di sampingnya terlihat semakin kagum. “Lynx benar-benar luar biasa,” katanya pelan.
Namun, di belakang mereka, Banu yang juga ikut mengamati mendengus pelan. “Tentu saja dia suka dipuji. Dia selalu membuat dirinya terlihat seperti pahlawan.”
Arkha menoleh tajam ke arah Banu. “Hentikan, Banu. Jika kau tidak punya sesuatu yang berguna untuk dikatakan, lebih baik diam.”
Banu mengatupkan bibirnya, tidak berani membalas.
Narendra menatap Marni dengan penuh perhatian. “Kalian pasti lelah. Biar kami bawa kalian ke perkampungan. Anakmu juga butuh istirahat.”
Marni tersenyum lemah. “Terima kasih. Kalian semua benar-benar baik.”
Rara mengawal Marni dan rombongannya kembali ke perkampungan. Di sana, mereka disambut oleh Widhi dan Raka yang memastikan mereka mendapatkan tempat untuk beristirahat.
Beberapa waktu kemudian, setelah memastikan Marni dan anaknya nyaman, Arkha dan Narendra duduk di dekat api unggun bersama Rara.
“Lynx tidak pernah lepas tangan jika ada yang membutuhkan,” kata Arkha sambil memandangi api yang berkedip-kedip. “Aku belum pernah bertemu seseorang seberani dan setulus dia.”
Narendra mengangguk. “Dia selalu memprioritaskan orang lain, bahkan jika itu berarti dia harus menghadapi bahaya sendirian. Tidak semua orang bisa seperti itu.”
Rara tersenyum tipis. “Aku ingin lebih kuat dan membantunya suatu hari nanti.” Wajahnya memerah membayangkan dirinya bisa berdua bersama Lynx.
Di kejauhan, Widhi memperhatikan percakapan mereka. Dalam hatinya, dia merasa bangga sekaligus terinspirasi. Lynx bukan hanya pahlawan, tapi juga sosok yang bisa menyatukan hati banyak orang.
